Senin, 06 Agustus 2012

Latar belakang dan masa depan krisis eoknomi


Dibalik Krisis Eropa : Latar Belakang dan Masa Depan Krisis

Krisis ekonomi Eropa dalam 2 tahun terakhir sudah menjadi keluhan yang biasa bahwa kebangkrutan di zona Eropa akan menyebabkan kerugian pada lembaga keuangan dan investor besar yang banyak memegang surat hutang Yunani, Portugis, Irlandia dan Spanyol.

Dalam kasus tersebut (dan banyak lainnya) tampaknya ada rasa dirugikan dari bank-bank dan investor besar. Setelah mereka menyediakan dana begitu banyak dalam membantu negara-negara Uni-Eropa yang dilanda krisis, para bank-bank dan investor tersebut akan dibiarkan menanggung kerugian. Bagi mereka, ini adalah sesuatu yang sangat tidak adil.

Di Balik Penyebab Krisis Eropa

Kekuatan ekonomi Jerman dalam beberapa tahun terakhir memiliki andil besar dalam terjadinya krisis Eropa. Surplus neraca perdagangan besar-besaran yang didapat oleh Jerman dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan negara-negara lain di zona eropa tidak dapat mengimbanginya. Spanyol dan negara-negara pinggiran Eropa lainnya harus mengalami defisit transaksi berjalan yang besar. Hal ini dikarenakan negara-negara pinggiran tersebut hanya menjadi target pasar dari ekonomi Jerman. Pemerintah Jerman pun menetapkan kebijakan yang tidak akan membiarkan negara lain di zona Eropa untuk berkembang, untuk mencegah kinerja ekspor Jerman yang dapat runtuh. Suku bunga di wilayah Eropa yang sangat rendah (ditetapkan sebagian besar oleh Jerman) memastikan bahwa negara-negara pinggiran akan tetap berjalan dengan defisit perdagangan yang besar.

Untuk itu memang selayaknya Jerman harus bertanggung-jawab dengan terjadinya krisis Eropa ini. Jerman membeli aset negara-negara Eropa lain (membantu perekonomian mereka dengan membeli surat hutang yang diterbitkan oleh negara Eropa lain) agar ekonomi mereka tetap berjalan dan mereka bisa tetap membeli produk Jerman. Artinya kemakmuran di zona Eropa harus sesuai dengan hukum “zero-sum game”

Zero-Sum Game :
dalam teori permainan dan teori ekonomi, permainan zero-sum adalah representasi matematis dari situasi di mana keuntungan yang didapat oleh peserta adalah sebagai akibat dari kerugian (kehilangan) dari peserta lain. Jika keuntungan total peserta ditambahkan, dan total kerugian dikurangi, mereka akan kembali ke nol”

Penyebab Krisis Yunani

Krisis Yunani berawal dari akumulasi defisit anggaran yang setiap tahunnya rata-rata mencapai sebesar 6% dari PDB selama 30 tahun. Yunani nampaknya tidak menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) dalam kebijakan defisitnya, sehingga defisit anggaran mencapai dua kali lipat dari ketentuan Uni Eropa (UE) yang maksimum ditetapkan sebesar 3%. Sementara itu pasar obligasi di dalam negerinya juga masih sangat terbatas, untuk itu Yunani menjual surat utang Negara (SUN)-nya kepada investor di Prancis, Swiss, dan Jerman. Sebagai dampak akumulasi defisit, saat ini defisit Yunani mencapai 13,6% dari PDB. Tingginya defisit Yunani di atas nampaknya efek dari lemahnya disiplin anggaran serta buruknya administrasi perpajakan. Hal ini tercermin dari pemborosan, korupsi, maupun manipulasi pembukuan. Ketentuan batas maksimum defisit UE dilanggar dengan memanipulasi pembukuan. Dalam sistem pembukuan dan anggaran berbasis kas, yang digunakan di Yunani, tidak mengantisipasi risiko fiskal karena dalam anggaran tidak memuat informasi mengenai pengeluaran contingency. Akibatnya pada saat SUN jatuh tempo pada April dan Mei 2010 ini, kewajiban pembayaran utang sebesar 20 biliun euro mengalami gagal bayar.Pemerintah Yunani nampaknya sudah pasrah dan menyatakan ketidakmampuannya untuk mencari dana segar guna melunasi kewajibannya yang jatuh tempo. Hal ini semakin memperparah derita Yunani, karena lembaga peringkat hutang Standard & Poor’s menurunkan peringkat hutang Yunani dari B menjadi CCC sehingga berpotensi gagal bayar pada 14 Juni 2010. Level kredit CCC hanya empat notch di atas level terendah berdasarkan pengukuran lembaga pemeringkat yang berbasis di Amerika Serikat ini.

Akibat turunnya peringkat utang Yunani, membuat para investor beramai-ramaimelepas Euro dan beralih ke Dollar AS sehingga Euro melemah seiring ketakutan akan tidak mampunya Yunani membayar utangnya. Krisis ini tidak hanya membuat Euro saja yang jatuh namun sebagian besar bursa mata uang regional juga mengalami pelemahan tak terkecuali Rupiah. Atas kegagalan tersebut, pemerintah Yunani secara resmi meminta bantuan secara formal kepada UE dan International Monetary Fund (IMF) untuk mengatasi krisis hutang yang sedang melanda negerinya. Untung, Yunani mendapatkan dukungan penuh dari UE dan IMF dimana secara bersama-sama mereka menyepakati akan mengucurkan dana bantuan darurat sebesar USD 160 milyar. Langkah yang dikenal sebagai "Marshall Fund" meminjam langkah yang dulu dilakukan Amerika Serikat untuk membantu perekonomian Eropa paska Perang Dunia II sangatlah menguntungkan Yunani. Dengan bantuan tersebut Yunani mendapatkan pemotongan bunga utang, perpanjangan jatuh tempo surat utang, bantuan pada sistem perbankan, serta komitmen untuk membantu Yunani dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Dengan langkah kebijakan tersebut, Yunani setidaknya menikmati pemotongan utanghingga 30 miliar euro. Langkah tersebut terpaksa dilakukan demi menyelamatkan perekonomian Eropa dan dunia yang lebih besar. Namun kesepakatan ini harus dibayar mahaloleh Yunani, sebagai imbalan bagi dana talangan itu, Yunani setuju untuk mengurangi APBN-nya sebesar USD 43 miliar dalam masa tiga tahun, dengan tujuan untuk mengurangi defisit menjadi di bawah 3% dari GDP menjelang tahun 2014. Perjanjian ini juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas financial Yunani dan pemerintahan di seluruh Eropa.Ketika keputusan tersebut diambil, dunia menyambut dengan antusias. Seakan ketidakpastian yang selama ini begitu menyelimuti, bisa disingkirkan. Kita lihat bagaimana kepercayaan di pasar modal mulai pulih kembali. Di tengah sikap optimistis atas langkah terobosan yang diambil negara-negara Uni Eropa, sebuah kebijakan kontroversial diambil Perdana Menteri Yunani George Papandreou.

Papandreou memutuskan untuk melakukan referendum kepada seluruh rakyat Yunani untuk mau atau tidak menerima langkah penyelamatan ekonomi yang ditawarkan Uni Eropa. Dimana pemerintah Yunani akan memotong gaji pegawai negeri dan dana pensiun, memangkas upah buruh swasta sebesar 15% dan birokrasi 30%, menaikkan berbagai jenis pajak dan BBM, memangkas anggaran militer sebagai upaya meningkatkan cadangan devisa negaranya. Pemerintah ingin melakukan pemotongan anggaran senilai USD 38 miliar dalam tiga tahun ke depan. Langkah ini, menurut pemerintah Yunani dapat mengurangi deficit menjadi kurang dari 3% sebelum akhir 2014. Karuan saja keputusan yang diambil Papandreou membuat para pemimpin Eropa kecewa. Langkah PM Yunani itu membawa Eropa dan dunia kembali kepada ketidakpastian. Masa depan pemulihan ekonomi Eropa kembali menjadi suram. Selama ini rakyat Yunani menentang keras berbagai langkah pengurangan subsidi. Mereka merasa kebijakan itu sangat membebani kehidupan mereka, apalagi setelah terjadi banyak pemutusan hubungan kerja sejak krisis melanda negeri itu di akhir tahun 2009. Di tengah perekonomian yang semakin melemah dan surat utang yang semakin tidak laku di pasar, Yunani sebenarnya tidak punya pilihan lain. Mereka harus melakukan penghematan besar-besaran apabila tidak ingin terpuruk semakin dalam pada krisis.

Langkah yang ditempuh Papandreou memang baik untuk kepentingan dirinya di mata rakyat Yunani. Namun kebijakan tersebut membawa dunia berada di ujung tanduk untuk terjerembab dalam krisis lebih buruk lagi. Tidak terbayangkan apabila rakyat Yunani memutuskan untuk tidak mau menerima langkah penyelamatan hanya karena tidak mau subsidi yang sudah mereka nikmati dihapuskan. Seluruh surat utang negara akan tidak berharga dan seluruh pemegang surat utang harus menanggung kerugian yang sangat besar. Yang paling ditakutkan, semua orang khawatir kepada surat-surat utang yang mereka pegang. Ketika mereka berlomba untuk menjualnya, maka nilainya akan semakin terpuruk. Ini akan bisa menyebabkan efek domino kebangkrutan negara-negara Eropa. Negara-negara yang diantisipasi mengikuti jejak Yunani adalah Spanyol dan Italia. Kalau jumlah rakyat Yunani di bawah 10 juta, jumlah rakyat di Spanyol dan Italia jumlahnya di atas 50 juta orang. Ukuran ekonomi yang lebih besar akan memberikan dampak yang lebih besar dari Yunani. Dan pada akhirnya, langkah pemerintah Yunani tersebut memicu aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh ratusan ribu pekerja dan pegawai pemerintah yang mengakibatkan berbagai sektor di Yunani lumpuh total. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap keputusan pemerintah yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan pemotongan gaji, kenaikkan pajak konsumsi, dan lain-lain yang merugikan rakyat Yunani. Satu hal yang sangat kita sesalkan, negara-negara Uni Eropa dan AS tidak berani tegas kepada Yunani. Hanya karena sama-sama orang Eropa, mereka tidak berani menghukum Yunani. Padahal ketika kita dihadapkan pada krisis keuangan tahun 1998, kita harus mengikuti langkah pemulihan yang ditetapkan Dana Moneter Internasional. Meski kemudian kita tahu resep pemulihan yang diberikan IMF salah total, kita dipaksa menelan pil pahit. Jutaan rakyat Indonesia harus merasakan akibat dari kebijakan IMF yang tidak didasarkan kajian yang benar. Kini ketika ada Yunani yang mengancam perekonomian dunia, Uni Eropa, AS, dan lembaga-lembaga keuangan internasional tidak berani melakukan tindakan pemaksa. Mereka membiarkan Yunani membahayakan masa depan perekonomian dunia.

Awal Krisis Yunani

Krisis ekonomi yang sangat dahsyat saat ini sedang melanda dunia barat. Uni Eropa saat ini sedang mengalami cobaan terberat dengan adanya krisis yang menjalar bagaikan api diseluruh sudut negara-negara anggotanya. Dimulai dari krisis ekonomi yang menimpa Yunani yang mengalami puncaknya pada tahun 2008 yang lalu.

Krisis ekonomi yang dialami oleh Eropa kali ini hampir sama krisis yang sebelumnya pernah melanda Eropa pada tahun 1931, krisis ini mula-mula timbul di Austria, yang pada waktu itu sebagai pusat yang lemah dalam struktur politik-ekonomi Eropa, dan akibatnya krisis ini segera menjalar bagaikan api yang mengamuk, pertama-tama ke Jerman lalu ke Inggris, dan akhirnya mengganas ke seluruh dunia (Nussbaum, 1970). Jika menelaah krisis ekonomi yang pernah melanda Eropa pada waktu itu, akan terbayang bagaimana keadaan Yunani sekarang ini, keadaan Yunani tidak jauh berbeda dengan keadaan Austria pada waktu itu, dan jika keadaan ini tidak ditanggulangi dengan segera maka Italia,Spayol, dan Portugal juga akan menyusul Yunani dan begitu seterusnya.

Krisis ekonomi dialami Yunani dalam dekade belakangan ini adalah krisis terparah yang pernah dialami oleh Uni Eropa pasca Perang Dunia II. Krisis ekonomi tidak hanya dialami oleh Yunani tetapi juga merebak ke negara – negara di Uni Eropa lainnya seperti Irlandia, Spanyol dan Portugal.

Bila dikaji dengan menggunakan teori konvensional mengenai krisis, Krisis yang terjadi di Yunani dapat terjadi akibat daripada kesalahan kesalahan kebijakan pemerintahan di masalalu. Menurut Salant dan Henderson (1978); Krugman (1979) ; Flood dan Garber (1984), Asumsi yang digunakan dalam model tersebut adalah negara dengan small open economy menganut sistem nilai tukar tetap (fixed exchange rate).Model ini adalah First Dalam model ini dikemukakan bahwa pemerintah dalam menghadapi defisit neraca keuangan kemudian menggunakan cadangan devisa negara terbatas yang dimilikinya untuk melakukan penguatan terhadap mata uang lokalnya. Kebijakan ini akan menciptakan instabilitas perekonomian negara karena para spekulan akan melakukan pelepasan secara besar – besaran terhadap mata uang lokal saat cadangan devisa negara merosot tajam pada titik tertentu.

Pada tahun 1974, Yunani memasuki babak baru pemerintahan, dari juntamiliter menjadi sosialis. Pemerintah baru ini kemudian mengambil banyak utang untuk membiayai subsidi, dana pensiun, gaji PNS, dll. Utang tersebut terus sajamenumpuk hingga pada tahun 1993, posisi utang Yunani sudah diatas GDP-nya, dansampai sekarang pun masih demikian. Saat ini utang Yunani diperkirakan telahmencapai 120% dari posisi GDP-nya, dimana banyak analis yang memperkirakan bahwadata yang sesungguhnya kemungkinan lebih besar dari itu.

Hingga awal tahun 2000-an, tidak ada seorang pun yang memperhatikan fakta bahwa utang Yunani sudah terlalu besar. Malah dari tahun 2000 hingga 2007, Yunani mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 4.2% per tahun, yang merupakan angka tertinggi dizona Eropa, hasil dari membanjirnya modal asing ke negara tersebut. Keadaan berbalik ketika pasca krisis global 2008 dimana negara-negara lain mulai bangkit dari resesi, dua dari sektor ekonomi utama Yunani yaitu sektor pariwisata dan perkapalan, justru mencatat penurunan pendapatan hingga 15%. Orang-orang pun mulai sadar bahwa mungkin ada yang salah dengan perekonomian Yunani.

Keadaan semakin memburuk ketika pada awal tahun 2010, diketahui bahwa Pemerintah Yunani telah membayar Goldman Sachs dan beberapa bank investasi lainnya, untuk mengatur transaksi yang dapat menyembunyikan angka sesungguhnya dari jumlah utang pemerintah. Pemerintah Yunani juga diketahui telah mengutakatik data-data statistik ekonomi makro, sehingga kondisi perekonomian mereka tampak baik-baik saja, padahal tidak. Pada Mei 2010, Yunani sekali lagi ketahuan telah mengalami defisit hingga 13.6%. Salah satu penyebab utama dari defisit tersebut adalah banyaknya kasus penggelapan pajak, yang diperkirakan telah merugikan negara hingga US$ 20 milyar per tahun.

Ketika IMF memberikan pinjaman, IMF mengajukan beberapa syarat penghematan anggaran kepada Pemerintah Yunani. Diantaranya pemotongan tunjangan bagi PNS dan pensiunan, peningkatan pajak PPN hingga 23%, peningkatan cukai pada barang-barang mewah, bensin, rokok, dan minuman beralkohol, hingga perusahaan BUMN harus dikurangi dari 6,000 menjadi 2,000 perusahaan saja. Tentu saja kebijakan ini sangat sulit untuk diterapkan.

Pada bulan yang sama, ketika Pemerintah Yunani mengumumkan kebijakan penghematan anggaran, rakyat Yunani langsung menggelar unjuk rasa besar-besaran di Athena untuk menolak kebijakan tersebut. Salah satu lembaga pemeringkat utang terkemuka, Moody’s, masih menetapkan rating utang Yunani pada salah satu level terendah, yaitu CCC.
Yunani Korban Pertama Krisis Ekonomi Eropa

Krisis ekonomi yang melanda Yunani tampaknya tidak pernah berakhir. Bahkan efek dominonya terus menggelinding kencang menghantam negara-negara zona Euro. Kini, Uni Eropa tengah mencari jalan untuk mengatasi masalah tersebut.

Bantuan paket penyelamatan ekonomi yang dikucurkan Dana Moneter Internasional (IMF) bagi Yunani hingga kini belum berhasil memulihkan perekonomian negeri yang pernah melahirkan para filosof besar dunia itu.

Pada 26 Oktober lalu, zona euro kembali meratifikasi kucuran paket penyelamatan ekonomi gelombang kedua bagi Yunani. Berdasarkan kesepakatan para kepala negara zona euro, syarat pemberian bantuan senilai 128 miliar euro itu adalah penerapan kebijakan pengetatan ekonomi oleh pemerintah Yunani. Dampaknya, pemerintah Yunani harus memangkas gaji dan perampingan pegawai di sektor jasa.

Di dalam negeri Yunani sendiri, memburuknya kondisi perekonomian negara itu memicu gelombang desakan pengunduran diri George Papandreou, Perdana menteri Yunani. Dilaporkan Perdana Menteri Yunani George Papandreou baru-baru ini menyetujui mengundurkan dirinya menyusul kesepakatan dengan pemimpin oposisi Antonis Samaras untuk membentuk pemerintahan koalisi.

Kesepakatan itu muncul setelah Presiden Yunani Karolos Papoulias mengadakan perundingan krisis dengan para pemimpin dari dua partai terbesar Yunani, Papandreou dari Gerakan Sosialis Panhellenik (PASOK) dan Samaras dari partai Demokrasi Baru.

Di tengah silang-sengkarut dinamika politik dan ekonomi Yunani, usulan referendum mengenai paket penyelamat ekonomi zona euro yang digulirkan Papandreou justru menjadi badai yang menggoncang bursa efek Eropa dan Amerika. Di dalam negeri sendiri, usulannya menjadi boomerang yang menggoyahkan fundamental perekonomian Yunani yang keropos.

Tampaknya pesimisme pemulihan kondisi perekonomian Yunani dan negara anggota zona euro lainnya semakin tercium jelas. Kanselir Jerman memprediksi kemungkinan berlanjutnya krisis euro hingga 10 tahun mendatang. Rapat tahunan para pemimpin G-20 negara industri dunia yang digelar di kota Cannes, Perancis menegaskan dukungan terhadap penyelesaian utang negara anggota Uni Eropa dengan memanfaatkan kucuran bantuan IMF.

Sementara itu, opini publik Yunani sendiri menolak tekanan Zona Euro terhadap perekonomian negaranya. Kebijakan pengetatan ekonomi dipastikan akan memicu protes massa di negara itu.

Tampaknya, jika tidak dilakukan penyelamatan sistemik, Yunani tidak lama akan menjadi korban pertama dari babak baru krisis ekonomi di kawasan Eropa. Bantuan kucuran paket penyelamatan ekonomi yang dilakukan Uni Eropa tidak cukup berarti untuk memulihkan perekonomian Yunani yang kini sedang terhuyung-huyung dihajar krisis yang semakin menggurita

a. Krisis Ekonomi Yunani

Ekonomi dianggap sebagai salah satu faktor yang paling penting di dunia, karena itu, jika krisis melanda perekonomian dunia, dunia akan menderita. Mulai dari isu-isu perdagangan dan masalah uang yang dapat mempengaruhi populasi global, segala masalah berat mengenai ekonomi harus segera diberantaskan sebelum situasi tersebut memperburuk keadaan dunia. Salah satu dari masalah berat tersebut adalah krisis ekonomi. Krisis ekonomi merupakan suatu situasi di mana perekonomian suatu negara mengalami penurunan tiba-tiba yang disebabkan oleh krisis keuangan. Krisis ekonomi dapat disebabkan oleh banyak hal. Dari dampak politik, berbagai aspek yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi itu sendiri, timbulnya krisis ekonomi dapat membuahkan dampak yang korup bagi dunia. Beberapa dampak yang dinyatakan adalah kemiskinan, runtuhnya sistem ekonomi maupun politik di satu negara atau lebih, dan berbagai hal yang berhubungan dengan perekonomian dan keuangan.

Dengan keadaan ekonomi global yang memburuk sejak tahun 2008 di Amerika, krisis tersebut telah menjalar ke beberapa negara di dunia. Walaupun Amerika sekarang sedang mengalami resesi, krisis ekonomi lebih besar membara di negara Eropa bernama Yunani. Meskipun isu ini baru di kenal dunia pada tahun 2009, isu tersebut telah timbul pada tahun 2001 ketika Yunani bergabung dengan mata uang Eropa, yaitu euro. Bahkan ketika mata uang Yunani yaitu drachma bergabung dengan euro, Yunani mengakui bahwa mereka belum mencapai persyaratan yang dibutuhkan untuk memasukki zona euro. Dari saat itupun kita dapat melihat bahwa ekonomi Yunani dapat jatuh karena ketidakstabilannya. Meski pada pertengahan tahun 2000an Yunani mengalami ekonomi yang stabil dan kenaikan GDP, krisis ekonomi Yunani berlanjut ketika seorang bernama George Papandreou menjadi perdana menteri Yunani. Walaupun niatnya baik dan ambisius, tindakan perdana menteri Yunani ditambah dengan pemerintahan Yunani terbukti gagal karena ekonomi Yunani semakin memburuk. Tindakan pemerintahan Yunani termasuk memotong defisit negara pada tahun 2010 sampai 2011, pengumuman penghematan paket yang lebih luas termasuk membekukan gaji sektor publik dan pajak yang lebih tinggi bagi rumah tangga berpenghasilan rendah dan menengah. Semenjak itu ekonomi Yunani menjadi sangat rapuh dan lemah sehingga Yunani terus menerus bertindak dengan meminjam dan berhutang dari negara lain serta meminta banyak bantuan dari negara-negara maju. Hutang yang mencapai 340 milyar euro sampai saat ini. Karena tindakan tersebut tanpa waktu yang lama, krisis ekonomi Yunani menyebar dan menjalar ke negara-negara lain di dunia.

Penyebaran tersebut dapat dikenal sebagai istilah ‘efek domino’. Istilah efek domino diambil dari analogi sebuah permainan domino itu sendiri, dimana ketika satu domino jatuh ke arah barisan domino selanjutnya, semuanya akan jatuh terus-menerus sampai akhirnya tak satupun domino berdiri. Definisi dari analogi tersebut adalah, penyebaran suatu perubahan yang dapat menjalar secara terus-menerus dalam bentuk reaksi berantai sampai masalah tersebut dapat dihentikan. Efek domino tersebut adalah keadaan yang terjadi pada krisis ekonomi Yunani masa kini. Dengan Yunani berhutang dengan negara-negara maju serta tidak dapat mengembalikan hutang tersebut, Yunani menyebar krisis ekonomi ini ke negara-negara lain. Kendati keikutsertaan negara lain yang menjawab permintaan bantuan dari perdana menteri dan pemerintahan Yunani, dengan mengeluarkan uang lebih banyak maupun bantuan tambahan lainnya. Karena Yunani masuk zona euro, krisis ekonomi Yunani mempunyai efek domino yang terjadi terhadap Eropa secara garis besar. Itulah jalur efek domino yang dapat dilihat sekarang. Meskipun Yunani memiliki tegasan sebagai negara paling dipengaruhi parah dengan krisis ekonomi, negara-negara lain yang berada dalam zona euro juga mengalami krisis ekonomi yang mulai sesaat dengan Yunani sendiri, seperti Spanyol dan Irlandia. Tetapi jalur tersebut sekarang mempengaruhi negara-negara Eropa lain seperti Italia, Siprus dan Islandia. Keparahan efek domino tersebut dapat dilihat dari negara-negara maju yang telah dipengaruhi oleh krisis ekonomi Yunani, dan potensi untuk krisis ekonomi bagi negara-negara Eropa lainnya sangat berkemungkinan. Maka dari itulah seluruh negara yang berada di zona euro berusaha sekeras mungkin untuk memberantas isu berat ini.

Karena efek domino terhadap negara-negara Eropa sudah dinyatakan, potensi yang lebih besar terdapat dalam isu ini. Eropa, sebagai benua berisi negara-negara yang kaya secara ekonomi dan tentunya maju dalam bidang apapun, bila mempunyai masalah yang berat dibedakan dengan benua bernegara lainnya tentu menunjukkan sebuah potensi krisis dunia. Kendati pengaruh yang Eropa miliki terhadap dunia dan Eropa sebagai fondasi ekonomi dunia. Eropa dapat runtuh karena isu tersebut dan bila tidak dihentikan, hasilnya dapat menimbulkan malapetaka. Jika dilihat dalam jangka 10 tahun ekonomi Eropa turun secara drastis, masalah ini dapat menular dan berkembang biak dengan kecepatan yang konsisten terhadap seluruh negara di dunia, sehingga, mempunyai potensi untuk menjadi peristiwa depresi besar kedua semenjak depresi besar yang dialami dunia sebelum perang dunia kedua. Maka dari itu, kita sebagai penduduk dunia harus bertindak dan mencegah dan menghentikan penyebaran krisis ekonomi sebelum kerusakan parah terjadi.

Pencegahan potensi kerusakan dan penghentian masalah tersebut dapat dimulai dari memberi perhatian terhadap isu ini. Memberi kesadaran dan menginformasikan publik tentang masalah ini adalah permulaan dari penanggulangan konflik secara keseluruhan. Tetapi, menginformasikan publik tentang isu global ini bukan berarti membuat kepanikan, tetapi menanam niat untuk bertindak, seperti isu global yang terjadi beberapa tahun lalu yang menjadi tren dunia, pemanasan global. Kita dapat mencegah isu global ini sama seperti dunia mencegah keparahan pemanasan global, dengan mengajari populasi dunia, menyebarkan kesadaran untuk bertindak secepatnya walaupun tindakannya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya dapat berkali-kali. Kampanye dan gerakan global antara lain melalui media massa dapat membujuk populasi dunia untuk menanggulangi masalah ini.

Tentunya jika isu global ini ingin dihentikan secara keseluruhan, solusi-solusi tertentu akan dibutuhkan. Solusi yang diberikan oleh ahli-ahli ekonomi dan politik dunia adalah antara lain, mendirikan departemen keuangan Eropa, agar ekonomi Eropa dapat dilihat secara keseluruhan dengan fokus dan rinci oleh satu kementerian, menegaskan strategi-strategi tertentu yang telah berhasil di masa lalu dalam isu yang serupa dengan sekarang dan meningkatkan pajak kepada seluruh penduduk Eropa untuk dana penanggulangan krisis ekonomi negara-negara Eropa tertentu. Populasi dunia dan pemimpin-pemimpin yang berhubungan pasti akan setuju dengan resolusi tersebut karena kunci dari menanggulangi masalah ini adalah sistem politik Eropa sendiri dan strategi penempatan dana maupun tindakan atau aksi ekonomi tertentu. Kesimpulan yang dapat dikemukakan adalah, krisis ekonomi apapun harus ditanggulangi dari pengaturan sistem ekonomi maupun politik sehingga ekonomi sebuah negara atau seluruh dunia dapat bertahan dan berjalan secara stabil.

Perkembangan Krisis Yunani

IHSG Fluktuatif

IHSG bergerak naik turun dengan tajam, merespons perkembangan dari penanganan krisis Eropa. Data positif soal deflasi Indonesia ternyata tak cukup untuk memberikan sentimen positif.

Mengawali perdagangan, IHSG langsung melemah dan pelemahan semakin tajam pada hari berikutnya. Sentimen utamanya adalah anjloknya bursa global merespons rencana referendum Perdana Menteri Yunani George Papandreou. Namun seiring besarnya kemungkinan kandasnya rencana referendum, bursa global membaik, diikuti pula oleh bursa Indonesia. Berikut pergerakan IHSG pada pekan lalu:

1. Senin (31/10/2011), IHSG terpangkas 39,113 poin (1,03%) ke level 3.790,847.

2. Selasa (1/11/2011), IHSG anjlok 105,835 poin (2,79%) ke level 3.685,012.

3. Rabu (2/11/2011), IHSG ditutup melesat 78,022 poin (2,11%) ke level 3.763,034.

4. Kamis (3/11/2011), IHSG terpangkas 57,224 poin (1,53%) ke level 3.705,810.

5. Jumat (4/11/2011), IHSG menguat 77,818 poin (2,10%) ke level 3.783,628.

Sementara bursa Wall Street mengalami koreksi, investor merasa 'putus asa' terkait masalah penyelesaian krisis utang Yunani. Pada perdagangan Jumat (4/11/2011), indeks Dow Jones industrial average ditutup melemah 61,23 poin (0,51%) ke level 11.983,24. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 7,92 poin (0,63%) ke level 1.253,23 dan Nasdaq melemah 11,82 poin (0,44%) ke level 2/686,15.

Perkembangan krisis Eropa masih akan menjadi fokus perhatian investor, terutama setelah Perdana Menteri Yunani George Papandreou mengundurkan diri. Investor akan mengambil untung sejenak mencermati perkembangan dari Eropa. Pada perdagangan Senin (7/11/2011), IHSG diprediksi bergerak fluktuatif cenderung melemah. Perdana Menteri Yunani George Papandreou sepakat untuk mengundurkan diri,

sehingga menimbulkan harapan baru untuk penyelesaian krisis. Pemerintahan baru Yunani

akan segera dibentuk di tengah krisis utang yang membelit negara tersebut.

IHSG pada perdagangan terakhir pekan lalu ditutup menguat +2.1% seiring dengan

euforia bursa regional terkait pembatalan referendum di Yunani. Meski demikian kondisi

pasar belumlah stabil. Pergerakan indeks masih sangat dipengaruhi oleh sentimen berita dari

regional. Terlihat meski berada dalam musim laporan keuangan emiten kuartal 3, investor terlihat mengabaikan sentimen tersebut dan terfokus pada masalah hutang Yunani. Perkembangan Positif Krisis Yunani Gairahkan Wall Street Bursa Wall Street kembali menguat, dalam rangkaian penguatan 3 hari berturut-turut merespons sentimen positif dari Yunani. Parlemen Yunani telah menyetujui rencana yang diajukan pemerintah guna menghindari gagal bayar utang. Optimisme terhadap persetujuan atas 'austerity plan' dari parlemen Yunani tersebut

telah membantu pasar rebound setelah melemah hingga titik terendahnya dalam 2 bulan terakhir. Parlemen Yunani akhirnya menyetujui paket pengurangan belanja, kenaikan pajak dan penjualan aset untuk 5 tahun dalam rangka mengurangi gagal bayar utang. Persetujuan diperoleh melalui voting 155 banding 138, sekaligus memberikan kemenangan bagi rencana Perdana Menteri Yunani George Papandreou. Pada perdagangan Rabu (29/6/2011), indeks Dow Jones ditutup menguat hingga

72,73 poin (0,60%) ke level 12.261,42. Indeks Standard & Poor's 500 juga menguat 10,74

poin (0,83%) ke level 1.207,41 dan Nasdaq menguat 11,18 poin (0,41%) ke level 2.740,49.

Ini adalah indikasi yang cukup baik untuk mendapatkan dasar di bawah untuk pasar

sekarang ini. Saham-saham sektor finansial mencetak kinerja terbaik. Saham Bank of

America Corp menguat hingga 3% setelah mencapai kesepakatan US$ 8,5 miliar dengan para

pemegang surat berharga berbasis hipoteknya. Indeks sektor finansial S&P tercatat naik

1,1%.

Saham Visa dan MasterCard juga mencetak titik tertingginya dalam 52 pekan

terakhir, setelah staf Bank Sentral AS memberikan rekomendasi hingga berlipat terhadap

rencana untuk sejumlah bank yang dapat mengenakan biaya kepada para peritel ketika

menggunakan kartu debit. Saham Visa melonjak hingga 15%, MasterCard melonjak 11,3%.

Perdagangan berjalan moderat, dengan transaksi di New York Stock Exchange

mencapai 7,19 miliar lembar saham, di bawah rata-rata harian yang mencapai 7,57 miliar

lembar saham.

Efek Domino Krisis Yunani terhadap Perekonomian di Eropa

Teori Efek Domino yang pertama kali dicetuskan oleh Presiden Amerika Serikat, Dwight Eisenhower dapat dijadikan acuan bagaimana krisis utang Yunani menjadi momok yang sangat hebat bagi negara-negara tetangganya di Uni Eropa.Menurut Eisenhower (1979), efek domino (yang kemudian populer dengan istilah Teori Domino) dikenali sebagai fenomena perubahan berantai berdasarkan prinsip geo-politik dan geo-strategis. Karena teori ini lahir dari konsideran geografis, maka obyeknya adalah negara-negara yang secara geografis berdekatan, misalnya terletak dalam satu kawasan. Pola perubahan dianalogikan seperti domino China (Mahyong) yang berdiri tegak, dimana jika keping domino paling awal dijatuhkan, ia akan menimpa keping domino terdekat, dan proses ini akan berlanjut hingga ke keping domino terakhir.

Tantangan yang begitu hebat dihadapi para pemimpin Eropa, sejak bangkrutnya Yunani, disusul Irlandia, Spanyol, merembet ke Itali, Inggris, dan terakhir melanda Perancis, yang masuk ke jurang krisis akiba utang. Perancis nasibnya sama seperti Amerika Serikat yang telah diturunkan peringkat rating kreditnya dari AAA menjadi AA+. Perancis yang mempunyai utang yang setara dengan 95 % PDB nya, sudah tidak lagi mampu mengatasinya.

Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukannya, kecuali hanya dengan memotong defisit anggaran, dan itu pasti akan membawa malapetaka kepada krisis politik dan sosial. Ujungnya terjadinya pemberontakan rakyat. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel mengumumkan langkah-langkah kebijakan mengatasi krisis utang, tetapi tidak mempunyai dampak positif di pasar. Bursa saham di Uni Eropa terus berguguran sampai titik yang paling rendah.

Krisis utang terburuk di Zona Euro telah memaksa pemerintah Eropa mengadopsi langkah-langkah penghematan ketat dan reformasi ekonomi. Kini muncul kekhawatiran bahwa penundaan lebih lanjut dalam mengatasi krisis utang zona euro bisa menyeret terjadinya resesi ekonomi yang melanda tidak hanya Eropa, tetapi juga seluruh dunia.

Sebelumnya, S&P dan Moody's and Fitch dalam berbagai laporannya di penghujung tahun 2011 menyinggung anjloknya rating kredit negara-negara Zona Euro. Pada Rabu, (22/12) rating kredit Hongaria diturunkan oleh Standar & Poor ke tingkat "sampah". S & P menyebut tingkat utang Hongaria merupakan yang tertinggi di Uni Eropa. Pertumbuhan ekonomi yang rendah dianggap sebagai alasan untuk jangka panjang dan jangka pendek termasuk rendahnya nilai mata uang negara itu membuat mereka terjungkal di peringkat BB+.

Kementerian Ekonomi Hongaria menyesalkan downgrade peringkat rating yang dialami negaranya. Mereka menyebut Hongaria telah menjadi kambing hitam dari krisis euro dan menjadi korban tidak langsung dari "serangan keuangan" kepada Uni Eropa. Dalam pernyataannya kepada media, kementerian itu mengatakan downgrade itu tidak didasarkan pada analisis keadaan ekonomi dan keuangan terkini Hungaria. Tapi, dipaksa oleh tekanan dari pelaku pasar yang kepentingannya adalah menguatkan dolar dan melemahkan euro.

Kini setiap negara di zona Euro mulai saling menyalahkan antarsesama mereka. Lembaga pemeringkat Fitch Rating mengumumkan bahwa perekonomian bermasalah Italia menimbulkan ancaman terbesar bagi krisis keuangan Eropa. Menurut David Riley, analis utama Fitch Rating untuk Amerika Serikat mengatakan, Italia berada di urutan terdepan krisis utang Eropa, mengingat program pinjaman raksasa negara itu dapat menyebabkan situasi berbahaya.

Lembaga pemeringkat ini juga menyatakan rating kredit Italia mungkin akan menurun pada akhir Januari. Negara ekonomi zona euro terbesar ketiga itu mungkin harus meninggalkan blok euro tahun ini. Riley juga memperingatkan bahwa 17 negara zona euro harus meningkatkan pendapatannya sebesar 2 triliun euro pada tahun 2012 demi mengatasi krisis ekonomi mereka masing-masing.

Naiknya Yield obligasi menjadi momok yang menakutkan. Menjelang akhir tahun 2011, Imbal hasil obligasi negara Eropa kembali melonjak sebagai efek dari peringatan lembaga pemeringkat rating S&P. Rating kredit 15 negara divonis dalam pengamatan negatif. Hanya dua negara yang steril dari observasi S&P, yakni Siprus dan Yunani. Kedua negara sudah berada dalam daftar rekomendasi negatif, sedangkan Yunani bahkan telah menerima predikat rating CC atau berisiko tinggi default.

Sementara itu, Perdana Menteri Italia Mario Monti memperingatkan bahwa negara itu bisa ambruk seperti Yunani tanpa langkah-langkah penghematan baru. Dikatakannya, paket pengetatan yang disahkan oleh Senat akan membantu memecahkan krisis utang zona euro. Utang Italia yang diumumkan sekitar 1,9 triliun euro, setara dengan 120 persen dari Produk Domestik Bruto negara itu. Pemerintah Roma menyatakan akan memenuhi target penyeimbangan anggaran hingga tahun 2013, tetapi memperingatkan perekonomian Italia akan tergelincir kembali ke dalam resesi tahun 2012.

Sementara itu Jerman dan Perancis berusaha keras mencari solusi menangani krisis Euro. Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan pembentukan kesatuan fiskal Eropa, dan mengatakan tidak ada cara lain untuk menyelesaikan krisis utang Zona Euro. Merkel telah mencoba membujuk Uni Eropa dan mitra Zona Euro untuk menegosiasikan perubahan perjanjian Uni Eropa guna menegakkan disiplin anggaran dan kontrol utang di Zona Euro.

Pemerintah Jerman menegaskan perubahan untuk membangun kekuatan guna memveto anggaran nasional di Zona Euro yang melanggar aturan bersama dan menghukum negara pelanggar aturan itu. Dia menolak tuduhan bahwa Jerman sedang mencari mitra untuk mendominasi Eropa dan menilainya sebagai tudingan yang aneh. Ditambahkannya, kesatuan fiskal Eropa dan sanksi otomatis diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan di pasar musik.

Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi dalam laporannya kepada anggota parlemen Eropa memperingatkan kebangkrutan bank-bank besar Eropa di tahun 2012. Draghi menyebut stabilitas ekonomi Zona Euro dalam bahaya yang mengancam kelanggengan ekonomi Zona Euro yang semakin memburuk.

Krisis Ekonomi di Yunani Pengaruhi Pariwisata

Sudah dua tahun ini Yunani mengalami krisis ekonomi, yang membuat semua harga-harga di negara tersebut jatuh. Baiknya, wisatawan tidak perlu lagi membayar mahal untuk pergi ke Yunani. Namun ternyata tidak semua destinasi wisata disana semurah seperti yang dikabarkan.

Namun sayangnya, masih ada satu destinasi wisata di Yunani yang sepertinya tidak terpengaruh oleh krisis ini, yaitu Santorini. Santorini kini tetap menjadi destinasi mahal meski wilayah lain di Yunani telah menurunkan harganya.

Hal ini dikarenakan wisatawan yang tiada henti datang ke Santorini setiap hari dengan kapal pesiar untuk bersantai di pulau yang bangunannya seluruhnya putih ini sambil memandang pantai vulkanik dan melihat matahari terbenam. Santorini memang pulau yang terbentik akibat letusan gunung berapi besar pada abad ke-17 Sebelum Masehi.
Hampir 180.000 wisatawan asing terbang ke Santorini pada 2011, naik 10,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Sekitar 80 persen dari wisatawan tersebut adalah pasangan yang sudah berumur yang bertujuan untuk berbulan madu. Namun bahkan wisatawan yang kaya raya pun sudah mulai meradang dengan harga wisata yang mahal di Santorini saat ini.

Resesi Ekonomi Yunani Memburuk Sejak 2009

Warga Yunani dituntut
Resesi ekonomi Yunani memburuk pada kuartal ke-empat 2009 terlihat dari meningkatnya kontraksi ekonomi negara itu, demikian data pemerintah. Kontraksi ekonomi Yunani meningkat dari 0,3 persen pada kuartal ketiga menjadi 0,8 persen para kuartal ke-empat 2009. Output Yunani pada kuartal ke-empat 2009 itu 2,6 persen lebih kecil dari periode yang sama tahun 2008. Data resmi pemerintah Yunani ini diungkap sehari setelah para pemimpin Uni Eropa berjanji membantu negara itu keluar dari krisis hutangnya. Yunani resmi dililit resesi pada kuartal kedua 2009.

Sementara itu, kantor berita Reuters melaporkan dari London bahwa Kanselir Jerman Angela Merkel menghambat talangan segera bagi Yunani pada pertemuan puncak Kamis yang gagal menawarkan usul konkret bagi membantu negara itu keluar dari krisis hutangnya.
Ketegaran Pemerintah Yunani Dalam Menghadapi Krisis Ekonomi

Tekanan krisis ekonomi Yunani setidaknya bisa menjadi ancaman serius kawasan Uni Eropa. Apalagi jika krisis itu bisa menjadi pemicu ketidakstabilan politik dalam negeri Yunani. Negara yang sistem ekonomi kapitalis campuran dan berpenduduk Yunani sebanyak 10.964.020 jiwa ini, memang terbiasa dengan standar hidup yang tinggi, tetapi ternyata harus menelan pil pahit keterpurukan ekonomi dan penurunan kualitas pelayanan publik akibat penghematan yang dilakukan pemerintah.

Keterpurukan negara itu menurut para pengamat tengah melangkah ke arah yang lebih parah. Kebijakan pengetatan ekonomi yang disahkan oleh parlemen Yunani diprotes secara luas oleh rakyat dan ini akan menjadi dilema bagi Pemerintah Yunani. Yunani telah memerintahkan pemotongan pengeluaran besar-besaran dan reformasi sistem pajak, menjanjikan akan mengurangi defisit anggaran dari 12.7% di tahun 2009 menjadi 8.7% di tahun 2010. Dari sini diharapkan dapat menekan pengeluaran negara bisa sampai 6,5 miliar USD, tetapi disisi lain pengetatan anggaran pemerintah Yunani berimplikasi luas terhadap pelayanan dan kesejahteraan pegawai pemerintah. Langkah itu memicu banyak unjuk rasa dan protes.

Berbagai instansi pemerintah seperti para pegawai perpajakan di Yunani melakukan aksi mogok kerja. Seperti dilaporkan Euronews, para pegawai perpajakan melakukan aksi mogok hari ini (10/3) dan menurut rencana aksi ini akan berlanjut sampai hari Kamis (11/3/2010). Aksi ini adalah yang kedua kali dilakukan pegawai perpajakan tersebut. Di Athena, polisi menembakkan bom gas air mata membubarkan kelompok mahasiswa dan pelajar yang bermaksud melancarkan aksinya di depan gedung parlemen negara tersebut. Aksi protes di Yunani ini mendapat sorotan luas media-media Eropa. Ribuan orang di Paris, Berlin, Kopenhagen, dan Roma berkumpul di depan Kedutaan Besar Yunani untuk menyatakan rasa simpati mereka.

Krisis yang belum pernah terjadi sejak jatuhnya pemerintahan militer pada tahun 1974 disulut oleh kasus terbunuhnya seorang remaja umur 15 tahun di tangan polisi. Namun kini aksi protes telah meluas dan merembet ke berbagai masalah lain. Aksi protes ini kini telah berubah menjadi ajang keributan massal.

Yunani berada di level terbawah indeks ekonomi dan sosial dibanding 15 negara anggota kawasan Euro lainnya. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings pada 8 Desember lalu sudah memangkas rating Yunani satu peringkat menjadi BBB+, ini pemotongan ketiga dan rating terendah dari peringkat negara yang layak untuk berinvestasi. Sehari sebelumnya, Standard & Poor's memberikan rating A- dengan pengawasan dan kemungkinan untuk di downgrade. Tidak hanya itu, negara ini juga melakukan pengurangan anggaran secara fantastis disamping tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda. Angka pengangguran dikalangan pemuda dibawah 25 tahun mencapai 20 persen. Sementara statistik pengangguran lulusan universitas mencapai 28 persen.

Pemerintahan Konservatif PM Yunani, Kostas Karamanlis, kini dihadapkan pada sebuah krisis sosial serius, bahkan lebih serius dari aksi kekerasan yang dilakukan polisi. Karamanlis mendapat sorotan tajam para wartawan saat menghadiri KTT Uni Eropa di Brussel, Belgia. Dalam menjawab pertanyaan para wartawan, Karamanlis menolak permintaan partai oposisi terkait pelaksanaan pemilu dini dan pengurangan dampak krisis finansial merupakan prioritas program kerja pemerintahannya.

Dampak krisis finansial telah mencekik sejumlah negara lemah anggota Uni Eropa. Bahkan krisis itu telah memaksa mereka untuk mengambil pinjaman darurat dari Badan Moneter Internasional (IMF). Para pemimpin Uni Eropa dalam sidang dua harinya di Brussel menyepakati alokasi dana sebesar satu setengah persen dari produk domestik bruto untuk membantu negara-negara yang memerlukan pinjaman darurat. Partai Konservatif Demokrasi Baru pimpinan Karamanlis menang tipis dengan selisih satu kursi di parlemen Yunani yang beranggotakan 300 orang.

Dengan kemenangan tipis tersebut, maka kecil kemungkinan bagi Karamanlis untuk dapat bertahan lama menghadapi aksi para demostran. Berlanjutnya aksi unjuk rasa juga akan meningkatkan ambisi partai oposisi untuk menyuarakan pelaksanaan pemilu dini. Hingga kini, hasil jajak pendapat saat ini menunjukkan Partai Sosialis Yunani pimpinan Andreas Papandreou, berada di posisi teratas.

Aksi demostrasi di Yunani kembali memperlihatkan keretakan di negara-negara anggota Uni Eropa dalam bidang ekonomi dan sosial. Dan hanya dibutuhkan satu penyulut untuk memperparah kisis tersebut. Masalah penting yang diperbincangkan saat ini adalah menjalarnya aksi protes ini ke negara-negara lain. Anggota Uni Eropa sangat mengkhawatirkan berlanjutnya krisis di Yunani akan mendorong munculnya aksi yang sama dari jutaan penganggur dan komunitas miskin di Eropa.

Tanpaknya Yunani berusaha akan tetap mandiri dalam menghadapi kesulitan ini. Menteri Keuangan Yunani George Papaconstantinou seperti dikutip koran Perancis Le Figaro juga menegaskan negaranya akan melakukan apapun untuk menghadapi krisis, tanpa minta bantuan bailout dari IMF. Pemerintah Yunani tidak ingin kesulitan ekonomi ini akan menjadi awal dari kehancuran ekonomi berikutnya jika harus terus bergantung pada IMF atau Bank Dunia. Apalagi memang banyak Analis yang berpendapat IMF mungkin akan menuntut persyaratan yang sulit dari Yunani, melampaui potongan anggaran dan peningkatan pajak yang telah diumumkan pemerintah Yunani dan bahkan mungkin lebih dari yang akan dipersyaratkan oleh rekan-rekannya di Uni Eropa.

Walaupun begitu dari pihak IMF pada Kamis (15/4/2010) telah mengirimkan misi ke Yunani untuk memberikan penawaran pinjaman dan lobby kepada otoritas Yunani. Tidak hanya itu IMF-pun telah mengontak otoritas Uni Eropa untuk memberikan bantuan kepada Yunani berupa rencana pinjaman siaga Uni Eropa-IMF yang disetujui Minggu dan menyerukan pembicaraan tentang kebijakan ekonomi "multi-tahun" dengan UE, Bank Sentral Eropa dan IMF, tetapi tanpaknya Yunani hanya bersedia menerima bantuan paket dari 15 Mitra euro yang bersedia memberikan paket penyelamatan 30 miliar euro (41 miliar dolar AS).

Yunani melalukan langkah-langkah konkrit untuk penghematan anggaran secara drastis. Berikut ini adalah
beberapa langkah penghematan anggaran yang dilakukan oleh
Yunani:
• Anggota parlemen Yunani telah menyetujui RUU
reformasi dana pensiun yang meningkatkan usia
pensiun dan membatasi pensiun dini, elemen kunci
dari bailout Uni Eropa/IMF yang bertujuan menarik
negara ini keluar dari krisis utang.
• Yunani berencana untuk mempersempit defisit anggaran
dari 13,6% dari PDB pada 2009 menjadi 8,1% tahun
ini, 7,6% pada tahun 2011 dan 2,6% pada 2014.
• Upah sektor publik dipotong rata-rata sebesar 15%
pada tahun 2010 dan akan dibekukan (tidak mengalami
kenaikan) sampai dengan tahun 2014.
• Upah sektor swasta akan dibekukan untuk tahun ini
dan akan meningkat sejalan dengan inflasi kawasan
Eropa pada tahun 2011 dan 2012.
• Pensiun, baik dalam sektor publik dan swasta,
dipotong sebesar 10% dan tidak akan mengalami
perubahan pada tahun 2011 dan 2012. Usia pensiun
untuk wanita diangkat sebanyak 5 tahun ke 65 tahun
untuk menyamai usia pension pria dan jumlah tahun
kontribusi naik dari 35-37 menjadi 40 tahun.
• Tingkat PPN utama meningkat sebesar 4 poin
persentase menjadi 23%. pajak konsumsi lainnya,
termasuk pajak cukai bahan bakar, rokok dan alkohol
ditingkatkan rata-rata sebesar 30%. Akibatnya, harga
eceran gas di SPBU naik sekitar 50% sejak awal
tahun.

Dampak Krisis Yunani Terhadap Perdagangan Indonesia

Krisis Yunani terlihat berdampak pada perdagangan Internasional Indonesia,

walaupun dampak yang dirasakan tidak begitu signifikan, ini terbukti dengan adanya

penurunan dalam hubungan dagang Indonesia-Yunani. Di tahun 2008 volumenya mencapai

mencapai 267 juta (dolar), di tahun 2009 menjadi 228 juta dan tahun 2010 menurun drastis

menjadi 164 juta. Walaupun memang hubungan bilateral kedua negara tidak terlalu banyak

menitikberatkan bidang ekonomi.

Indonesia mengekspor antara lain minyak tanaman, produk kertas, sepatu, ban mobil,

baterai dan tekstil. Sementara dari Yunani, Indonesia mengimpor antara lain bubuk kertas,

dan minyak zaitun berpeluang bagus jadi salah satu produk impor.

Dampak Krisis Yunani Terhadap Rupiah

Krisis utang di Eropa yang mengakibatkan diturunkannya rangking utang Yunani dari

B menjadi CCC membuat para investor beramai-ramai melepas Euro dan beralih ke dollar

AS sehingga Euro melemah seiring ketakutan akan tidak mampunya Yunani membayar

utangnya. Krisis ini tidak hanya membuat Euro saja yang jatuh namun sebagian besar bursa

mata uang regional juga mengalami pelemahan tak terkecuali rupiah.

Pelemahan kali ini dipimpin oleh Won mata uang Korea Selatan dan dollar Singapura,

won diperdagangkan pada level 1.090,05 terhadap dollar dan dollar Singapura pada level

S$1,2423 sedangkan rupiah terhadap dollar AS adalah 8.563 perdollar. Para investor lebih

memilih aset yang paling dirasa aman dan menjanjikan seperti dollar AS.

Rupiah bisa saja stagnan jika para pelaku pasar tidak melakukan aksi mengambil

untung yang mengakibatkan rupiah sedikit melemah namun penurunan ini tidak terlalu

mengkhawatirkan pasar sebab rupiah masih bisa bertahan karena suku bunga acuan yang

menjanjikan sehingga tetap menarik minat para investor. Indonesia masih menjadi tujuan

berinvestasi yang menarik apalagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin membaik

terbukti dari laporan bulan April yang menggembirakan.

Untuk saat ini wajar jika para investor melepas kepemilikan emas nya guna

mengantisipasi krisis Eropa yang semakin mengkhawatirkan dan beralih membeli dollar AS

sebagai langkah aman membuat harga emas mengalami penurunan. Harga emas

diperdagangkan pada level US$1.507,98 per troy ounce, trend penurunan ini akan terus

berlanjut sampai krisis utang bisa diatasi.

Antisipasi Pemerintah Indonesia Terhadap Krisis Yunani

Bagi Indonesia, meskipun eksposure Indonesia ke Yunani dan Uni Eropa tidak terlalu

besar, namun bila risiko ini berdampak pada perekonomian dunia, maka akan berdampak

pula pada perekonomian Indonesia.

Namun, Indonesia tetap optimistis menghadapi krisis dari Eropa ini. Alasannya, ruang

kebijakan fiskal masih cukup terbuka untuk menstimulasi kegiatan ekonomi domestik tanpa

bergantung pada faktor eksternal. Kebijakan moneter juga dapat lebih akomodatif bila

diperlukan karena inflasi yang cenderung menurun dan terkendali,

Pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi jika gejolak krisis utang di Eropa

semakin dalam, sementara pertemuan G20 di Cannes, Prancis, tidak menemukan hasil

signifikan. Langkah antisipasi itu dibuat pada sektor fiskal dan nonfiskal.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, dunia menunggu deklarasi Cannes

yang terkait krisis keuangan di Eropa. Presiden, sudah memberikan arahan agar Indonesia

mengantisipasi persoalan itu dan tetap menjaga momentum pertumbuhan. ''Kita

mempersiapkan rencana-rencana yang akan dijalankan manakala itu memengaruhi ekspor,''

ujar Hatta di Cannes.

Pemerintah, akan memberikan stimulus dan memperbesar pasar domestik. Meski

Eropa sedang mengalami krisis, ia meyakini perekonomian Indonesia tetap baik. Indonesia

juga mempunyai kebijakan keuangan publik yang kuat.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan Indonesia telah

mempersiapkan diri kebijakan fiskal dan nonfiskal yang cukup kuat. Indonesia siap

seandainya ekonomi global masuk dalam kondisi membahayakan. Kebijakan fiskal itu

direncanakan berbentuk ekspansi melalui stimulus fiskal.

Saat krisis global terjadi pada 2008-2009, pemerintah memberikan stimulus yang

cukup besar agar swasta dapat bangkit dan roda perekonomian terus bergulir. ''Pada 2012,

kita sudah ada persetujuan dalam APBN dan kita persiapkan. Jika perlu, ada revisi dengan

program-program yang ditambah stimulus,'' jelasnya.

Pada waktu bersamaan, pemerintah juga tetap menjaga defisit anggarannya agar tidak

terlalu besar. Rasio utang terhadap produk domestik bruto saat ini yang hanya sekitar 25

persen dinilainya jauh di bawah Eropa yang rasionya bisa mencapai 80 persen. Penerimaan

negara pun tetap dijaga dan belanja pemerintah dikeluarkan dengan baik.

Untuk pendekatan nonfiskal, adanya perbaikan struktur, seperti di bidang

ketenagakerjaan, jaminan sosial, regulasi, dan infrastruktur. Dia memperkirakan pertemuan

G20 kali ini banyak membicarakan penyelesaian krisis di Eropa. Apalagi Yunani telah

memutuskan menggelar referendum untuk menentukan kelanjutan rencana bailout dari troika:

Uni Eropa, Bank Sentral Eropa, dan Dana Moneter Internasional (IMF).